Skip to main content

Jurnal MOTyB Hari 1 – Apa yang Dilakukan Bersama Keluarga Hari ini?

Alhamdulillah, setelah lebih dari enam bulan, akhirnya kami mendapatkan seorang asisten RT yang cukup mumpuni. Karenanya saya memiliki kesempatan, waktu dan energi lebih banyak untuk membersamai 3 orang anak laki-laki superaktif di rumah. Pagi ini, si tengah (Keanu) bangun paling awal. Saya hampiri ke kamarnya dan bersapa pagi sambil mengelus-elus punggungnya. Setelah ke kamar mandi dan minum air putih, dia menanyakan ayahnya yang sudah berangkat kerja. Kemudian saya menawarkan diri untuk menemaninya naik go-cart di sekitar komplek.
Sekitar 20 menit keliling komplek, Keanu terlihat menikmati menghirup udara segar sambil mengamati kucing-kucing liar di sekitar, mendengar suara burung dan pesawat yang lewat (daerah kami adalah wilayah perputaran pesawat udara yang terbang ke bandara Halim Perdana Kusuma). Pagi tadi masih sangat sepi ketika kami jalan. Sudah lama kami tidak berduaan dengan santai. Lain cerita kalau si bungsu sudah bangun. Sesekali dia bertanya boleh atau tidak main ke rumah tetangga. Setelahnya kami kembali ke rumah, menunggu waktu mandi, sarapan sambil main kereta api kayu. Jam 8.30 kelas online nya dimulai, Keanu sudah duduk sambil minum susu. Tanggal 19 Juni nanti TKnya akan ada acara pesta akhir tahun, jadi setiap pagi murid menari bersama-sama menghapalkan gerakan tarian penutup. Saya stand by di samping sambil ikut menari agar dia semangat.
Usai sekolah, Keanu ganti baju dan minta nonton TV. Saya jatahkan screen time 30 menit sambil saya memandikan dan menyuapi si bungsu. Kemudian mereka bermain bersama-sama di ruang tengah, berebutan sepeda roda tiga, berlari-larian ke sana-sini, menendang bola-bola. Memiliki anak laki-laki di usia balita (apalagi lebih dari satu) memang harus cukup punya energi untuk mensiasatinya.
Di antara ketiganya, si tengah ini yang paling terlihat sporty. Walaupun badannya kecil, tapi dia sanggup jogging keliling area sebuah perkantoran, bahkan saya saja berhenti beberapa kali sambil ngosh-ngosh-an. Setiap hari berlompatan di kasur, berjalan di punggung saya dengan seimbang, atau memanjat ayahnya. Saya ingat di usia sekitar 2 tahun lebih dia sudah biasa salto jungkir balik di kasur, maupun lincah bermain di playground. Sebelum pandemi, dia kami ikutkan kelas futsal, untuk mengasah motorik dan sensorinya. Di usia 2,5 tahun dia kami ikutkan kelas bermain di Rumah Dandelion, adalah kelas stimulasi sensori dengan metode bermain. Anak dan orang tua bersama-sama bermain terstruktur. Sebelum kelas dimulai, anak akan di screening tumbuh kembangnya, yang akan menjadi pedoman bagi orang tua dalam catatan pengembangan stimulasi. Buku “Pedoman Tumbuh Kembang Anak Usia 0-5 tahun” yang dikembangkan oleh Rumah Dandelion juga menjadi pegangan untuk memantau tumbuh kembang anak-anak. Kami ingin dapat mendeteksi secara dini jika ada kewaspadaan ataupun hal-hal yang perlu dikejar pada masa tumbuh kembang. Tidak ingin mengulangi pengalaman si sulung yang baru terdeteksi ADHD menjelang masuk SD.
Selama #dirumahaja, untuk kegiatan motorik kasar biasanya saya tayang ulang video-video yang pernah diberikan selama kelas bermain. Biasanya video yang diputar memang unik-unik dan menarik bagi anak-anak untuk bergerak, seperti video tentang gerakan hewan-hewan, permainan maupun relaksasi. Sedang untuk saya pribadi, belum ada latihan fisik khusus, selain ikut anak-anak joged ataupun ikut kelas wellness yoga. Biasanya sudah lelah dengan mengurus anak-anak dan rumah. Namun walau begitu, kesibukan itu belum terhitung olah raga rupanya. Ingin menciptakan waktu agar bisa bersepeda bersama. Setelah puas bermain, berantam dan bergulat (biasanya berebutan mainan) dengan si bungsu yang berusia 3 tahun, lanjut makan siang dan pudding. Mereka saya ajak ke kamar atas untuk membaca buku sambil santai. Teringat ada PR tentang daur hidup tanaman, sayapun mencari-cari di rak buku sepertinya punya buku yang menarik untuk anak-anak. Saya membacakan “Botany for Babies” terbitan Caterpillar Books. Penjelasannya yang sederhana disertai ilustrasi yang berwarna-warni mudah-mudahan bisa dipahami oleh Keanu. Terlihat dia menyimak sambil saya lakukan tanya jawab. Si bungsu yang tadinya sibuk sendiri pelan-pelan mendekat. Kemudian merekapun tidur siang.
Alhamdulillah, sang ayah bisa pulang sore, jadi ada waktu bermain dengan anak-anak. Biasanya mereka lebih antusias dan semangat bercerita maupun memanjati ayahnya. Bermain bersama ayah memang lebih fun. @sridewisusanty

Comments

Popular posts from this blog

Jurnal MOTyB hari ke-13 tentang kemandirian

Kemarin pagi sebelum Pesta Akhir Tahun sekolahnya dimulai, Keanu mandi dan sikat gigi sendiri. Setelah selesai saya memang mengecek hanya untuk memastikan semuanya sudah bersih (tidak ada sabun yang masih menempel). Pintu kamar mandi belum ditutup jika mandi, namun dia menutup tirai shower karena malu dan ingin berkegiatan sendiri. Selesai mandi, dia memakai pakaian dalam dan celana pendek sendiri, maju seragamnya masih saya pakainkan karena seragam yang dipakai untuk acara adalah yg model kelasi, ada sliting di bagian belakang. Jika mengenakan seragam berkancing atau piyama tidur, Keanu sudah bisa mengancing dan membukanya sendiri. Karena kami semua ingin menonton acara beramai-ramai, laptop disambungkan ke TV agar terlihat besar. Keanu terlihat senang melihat acaranya dan mendapat tepung tangan meriah dari kami ketika dia tampil secara mandiri juga dia bergerak mengikuti lagu di bagian closing acara, tanpa kami ingatkan. Selesai acara, dia mengganti baju seragam dengan baju main...

Jurnal MOyTB hari ke-11 tentang Toilet Training

Pengalaman yang Berbeda. Saya percaya setiap anak mengalami fase tumbuh kembangnya sendiri-sendiri, termasuk toilet training. Begitu pula dengan Keanu, berbeda dengan abangnya yang cukup “mulus” perjalanannya, Keanu sedikit berliku. Dulu abang sejak usia 2 tahun menurut jika setiap pagi setelah bangun tidur kami ajak ke kamar mandi untuk pipis, dan juga setiap 2-3 jam diajak ke kamar mandi supaya tidak ngompol. Sedang Keanu menolak, jadi ada proses drama dulu sebelum akhirnya mau diajak pipis. Kami melengkapi kamar mandi dengan toilet mini bergambar kodok agar dia mau pipis di situ. Untuk BAB, ada juga toilet mini lungsuran abangnya dulu. Jika si abang dulu mau, Keanu tidak. Dia memilih di toilet besar dengan alas bantu khusus untuk anak kecil. Juga bangku kecil untuk pijakan dia naik ke toilet. Untuk pembelajaran toilet training ini kami juga melengkapi kasur dengan sprei anti air agar mudah dibersihkan. Walaupun suaranya berisik kresek kresek jika bergerak. Juga dengan penggu...

Jurnal MOTyB Hari 4 – Ceritakan kegiatan tentang meminjam buku di website perpustakaan Tetum Bunaya

Menumbuhkan Budaya Membaca di Rumah. Sejak SD saya punya perpustakaan mini di rumah, yang saya susun sendiri. Teringat perasaan gembiranya ketika almarhum ayah mengajak saya berbelanja ke kota Medan (saya besar di kota Lhoksemawa, Aceh Utara). Saya tidak begitu ingat berbelanja di mana, tapi rasanya bukan di toko buku, karena orang tua saya berbelanja yang lain dan saya sibuk di seksi buku-buku dan alat tulis. Mungkin seperti supermarket besar. Koleksi buku-buku saya waktu itu sebagian besar komik dan fiksi pendek. Saya tumbuh dengan buku-buku Enyd Blyton, Trio Detektif, Lima Sekawan, Malory Towers, STOP, Koleksi buku Tini (berbagai judul) juga Doraemon, Kungfu Boy, serial animee cerita untuk anak perempuan (banyak sekali judulnya) seperti Candy-Candy, Sailor Moon, dll. Beruntung saya punya adik yang juga senang buku, jadi kami berdua mengumpulkan, merawat dan menyusun buku-buku. Pernah juga mencoba membuka taman bacaan, namun tetangga saya bilang kok pelit banget sih pinjam buku...