Terima semua perasaan yang hadir.
Hari ini perasaan saya naik turun. Mengasuh 3 orang anak yang kesemuanya laki-laki memang butuh energi fisik dan mental. Apalagi dalam 2 minggu ini kami cukup banyak terlibat dengan beberapa aktifitas besar yaitu masa ujian akhir semester si sulung, menulis jurnal MOyTB dan tantangan 30 hari #bacajakarta. Alhamdulillah sudah ada asisten, jadi urusan rumah saya serahkan kepada beliau sambil sesekali supervisi. Saya dan suami berbagi tugas saling mengisi dan mengingatkan agar semuanya bisa berjalan dengan baik. Lelah, tentu iya. Namun di penghujung hari, ketika semua anak sudah tidur, dan waktunya saya menulis jurnal, saya menemukan kepuasan tersendiri, puas dalam artian mensyukuri bisa menjalani hari ini dengan sebaik mungkin yang saya mampu. Dan menyusun strategi dan daftar kegiatan untuk esok hari.
Malam ini juga saya membaca kembali 9 jurnal yang telah saya tulis mengikuti prompt dari Tetum. Teringat dulu memang sempat berniat membuat blog yang isinya pengalaman hidup dan juga kenangan masa kecil saya yang mudah-mudahan nantinya akan bermanfaat jika dibaca oleh anak-anak ketika mereka besar nanti. Jadi nama blog ini sudah saya buat sebelumnya, namun masih kosong. Dan ternyata cocok untuk nama jurnal ini.
Di usia yang tak lagi muda, namun masih memiliki balita (di usia saya ini sepatutnya memang anak-anak sudah usia SMA bahkan beberapa ada yang sudah punya cucu) membuat saya berfikir bagaimana caranya “meninggalkan” rekam jejak yang baik di dunia maya, “meninggalkan” kenangan tentang masa kecil yang indah walau tidak sempurna (inner child), yang isinya mungkin akan bermanfaat bagi anak-anak ketika dewasa nanti. Mudah-mudahan ketika MOyTB selesai saya tetap meneruskan jurnal ini, dengan niat tadi.
Setelah membaca kembali ke 9 tulisan tersebut, saya semakin merasa bersyukur. Tiap anak spesial dengan keunikannya masing-masing, dan masa pandemi pun spesial membuat kami lebih mengenal lebih dalam satu sama lain. Jika sebelumnya mungkin hanya di permukaan. Jika sedang berkumpul bersama, saya dan sang ayah sering membahas tentang karakter masing-masing anak, kadang sambil tertawa-tawa kadang sambil mata berkaca-kaca. Betapa bahagia dan bersyukurnya kami dikaruniai 3 anak yang berbeda karakter. Walau kesehariannya berisik, capek dengan sibling rivalry, lelah dengan menjawab berbagai pertanyaan dan keluhan, rumah yang seperti kapal pecah, lelah “marathon” dengan situasi pandemi dan adaptasi kebiasaan baru. Alhamdulillah sampai hari ini masih diberikan Kesehatan dan dalam lindungan Allah STW.
Demikian pula dengan Keanu, si anak spesial yang kami ikhtiarkan hadir di kehidupan kami. Kehadiran Keanu dibantu dengan iktihar kami melalui proses inseminasi buatan. Selama setahun menjalani pemeriksaan kesehatan, program kehamilan, vitamin dsb, Alhamdulillah Allah meridhai ikhtiar kami. Melalui tulisan-tulisan ini saya diingatkan kembali untuk senantiasa bersyukur dengan kehadiran dan keadaan Keanu. Dia adalah anak yang tangguh, pengertian dan penyayang.
Saya juga membaca jurnal yang sang ayah bikin. Sejak awal kami sepakat untuk bebas memilih platform apa yang digunakan, bagaimana konsep penulisan, dll. Terharu juga, ternyata sang ayah cukup detil dan seringkali bisa memberikan intisari yang mencerahkan. Walau terkadang ada juga hal=hal yang ternyata dia belum update/kurang aware dengan perkembangan anaknya. Mungkin ini refleksi juga buat saya agar kami bisa meluangkan waktu lebih banyak berdua saja, untuk sekedar ngobrol saling update tentang apapun.
Satu hal lagi yang menjadi refleksi, kenapa tulisan saya kian hari kian pendek ya ...
Kemarin pagi sebelum Pesta Akhir Tahun sekolahnya dimulai, Keanu mandi dan sikat gigi sendiri. Setelah selesai saya memang mengecek hanya untuk memastikan semuanya sudah bersih (tidak ada sabun yang masih menempel). Pintu kamar mandi belum ditutup jika mandi, namun dia menutup tirai shower karena malu dan ingin berkegiatan sendiri. Selesai mandi, dia memakai pakaian dalam dan celana pendek sendiri, maju seragamnya masih saya pakainkan karena seragam yang dipakai untuk acara adalah yg model kelasi, ada sliting di bagian belakang. Jika mengenakan seragam berkancing atau piyama tidur, Keanu sudah bisa mengancing dan membukanya sendiri. Karena kami semua ingin menonton acara beramai-ramai, laptop disambungkan ke TV agar terlihat besar. Keanu terlihat senang melihat acaranya dan mendapat tepung tangan meriah dari kami ketika dia tampil secara mandiri juga dia bergerak mengikuti lagu di bagian closing acara, tanpa kami ingatkan. Selesai acara, dia mengganti baju seragam dengan baju main...
Comments
Post a Comment