Ketika ditawarkan oleh pihak sekolah Tetum untuk mengikuti proses pendaftaran dan proses “penjajakan” antara sekolah dan orang tua, saya sempat ragu. Hal ini dikarenakan jadwal penulisan jurnal selama 2 minggu hampir berbarengan dengan jadwal Ujian Akhir Tahun si abang (kelas 4) dan juga kegiatan #bacajakarta2021.
Saya juga menanyakan komitmen sang ayah, karena ayah juga sedang ikut kajian Islam dengan beberapa tema yang juga ada jadwal ujiannya. Namun akhirnya kami menyanggupi karena berfikir ini adalah kesempatan dan jika gagal kami tetap memiliki pengalaman berharga dengan menulis jurnal tersebut dan mudah-mudahan masih ada waktu untuk ikut tahun depan.
Minggu pertama alhamdulillah proses penulisan berjalan cukup mulus, saya berfokus pada pendampingan abang belajar persiapan ujian sambil berfikir (poin-poin) akan menulis/bercerita tentang apa untuk jurnal hari ini. Ketika malam tiba dan anak-anak sudah tidur, saya bisa langsung menuliskan apa yang saya pikirkan tadi. Setiap pagi prompt yang dikirimkan saya baca, kemudian saya diskusikan dengan suami agar dia tidak lupa. Sang ayah juga tampak menikmati proses menulis, saya terharu juga sih ternyata ayah bisa menulis dari hati, karena biasanya ayah lebih mudah menuangkan pikiran lewat verbal daripada tulisan. Banyak sudut pandang baru yang saya dapatkan darinya, juga sudut pandang baru akan dirinya.
Seminggu kedua, ada kegiatan tambahan baru, yang ternyata cukup menyita waktu dan persiapan. Karena mengajak anak balita membaca buku (dibacakan buku) juga perlu melihat mood dan kondisi mereka. Terkadang ketika proses membacakan sudah baik dan menyenangkan tapi tidak ada yang mendokumentasikan. Jadi harus diulang lagi khusus untuk dokumentasi karena akan dikirimkan ke buklet dan publikasi di media sosial. Saya pun menulis sampai dini hari atau terkadang keesokan harinya.
Si bungsu yang tadinya bisa tidur sendiri ternyata juga mengalami perubahan. Dia jadi menemani saya tidur larut malam sambil membongkar semua mainan dan buku-buku, asyik sibuk sendiri sampai saya selesai.
Butuh adaptasi, mengatur strategi dan prioritas agar semua berjalan dengan baik. Mudah-mudahan saya masih terus semangat menulis jurnal tentang jejak langkah keluarga kami, agar dapat menjadi kenangan dan kesadaran akan makna kehadiran setiap diri, juga bersyukur atas kehidupan dan rezeki yang dikaruniakan oleh Allah SWT. Bisa jadi bentuk jurnalnya berbeda, namun memiliki tujuan yang sama.
Pada akhirnya, menulis jurnal adalah proses penyadaran akan makna hari ini, dan refleksi akan upaya dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik keesokan harinya.
Terima kasih MOTyB! Saya senang mendapat pengalaman baru akan banyak hal selama prosesnya.
Kemarin pagi sebelum Pesta Akhir Tahun sekolahnya dimulai, Keanu mandi dan sikat gigi sendiri. Setelah selesai saya memang mengecek hanya untuk memastikan semuanya sudah bersih (tidak ada sabun yang masih menempel). Pintu kamar mandi belum ditutup jika mandi, namun dia menutup tirai shower karena malu dan ingin berkegiatan sendiri. Selesai mandi, dia memakai pakaian dalam dan celana pendek sendiri, maju seragamnya masih saya pakainkan karena seragam yang dipakai untuk acara adalah yg model kelasi, ada sliting di bagian belakang. Jika mengenakan seragam berkancing atau piyama tidur, Keanu sudah bisa mengancing dan membukanya sendiri. Karena kami semua ingin menonton acara beramai-ramai, laptop disambungkan ke TV agar terlihat besar. Keanu terlihat senang melihat acaranya dan mendapat tepung tangan meriah dari kami ketika dia tampil secara mandiri juga dia bergerak mengikuti lagu di bagian closing acara, tanpa kami ingatkan. Selesai acara, dia mengganti baju seragam dengan baju main...
Comments
Post a Comment